Selasa, 17 November 2009

Fate vs Performance

Ada satu stereotip di dunia ini yang baru-baru aja gw sadari . Orang-orang di dunia ini banyak yang berpikir bahwa “ORANG YANG TAMPANGNYA RUPAWAN, NASIBNYA BAIK”. Ada yang ngeh sama stereotip ini gak?

Well, emang cantik ato cakep itu relatif. Tapi, dari jaman embahnya eyang kakung masih ngompol sampe tar cucu gw punya cucu, pasti ada yang namanya inovasi untuk ramuan untuk bikin lebih cantik. Entah itu empon-empon yang diulek ato mandi susu gajah,tapi di dunia ini ada aja yang namanya usaha baru untuk perawatan kecantikan. Kalo lagi kurang kerjaan, banyak duit dan panjang umur, coba aja itung berapa pertumbuhan rumah kecantikan ato ramuan agar jadi lebih cantik yang muncul per harinya. Gw yakin pasti ada minimal 1 di dunia ini, secara orang di dunia ini jumlahnya udah kayak pori-pori di kulit kita.

Tapi, apa emang bener stereotip itu? Bahwa orang cantik itu nasibnya lebih baik? Kalo kita tengok dongeng anak-anak yang settingnya kerajaan, jarang ada cerita si jahat cantik dan si puteri jelek.Kalo pas dapet puterinya jelek, biasanya dikutuk si jahat, tapi tar juga cantik lagi. Kalo buat gw,yang namanya tuan puteri itu adalah makhluk CANTIK, KAYA, DISANJUNG ORANG BANYAK dan NANTINYA KAWIN SAMA PANGERAN (yang kalo di cerita biasanya naek kuda putih). Dan yang namanya pangeran ya sebelas dua belas sama definisi puteri. Jadilah ramuan yang terpatri di otak kebanyakan orang:

PUTERI (dengan definisi kampring gw) + PANGERAN (definisinya sama tapi versi macho) = HAPPILY EVER AFTER (bukankah harapan ini yang bikin orang hidup nyaman di dunia?)
Karena itu, banyak orang yang berlomba-lomba jadi lebih cantik. Sampe kena radang lambung karena gak makan juga dijabanin, demi bodi semlohai. Yang cowok juga setengah mampus ngebentuk daging dengan ngegym sambil nengak telor dengan jumlah yang bikin ayam stres kebanyakan ngeden. Well, kalo ditanya satu-satu, pastilah tujuannya beda-beda, namun kalo semua tujuan itu dikumpulkan dan disederhanakan, pasti akan jadi satu kalimat itu : “..try to being happily ever after”.

Jujur aja, sampe gw nulis ini, gw masih belum nemu jawaban memuaskan untuk pertanyaan itu. Gw hanya coba nganalisa kenapa banyak orang yang pengen ngubah penampilan, itu aja. Katanya kan tampang itu gak ada yang jelek, lha wong pemberian-Nya. Hanya, kenapa orang masih bikin standarisasi soal kecantikan, sampe di kantor lama gw, kalo gak pake make up aja bisa kena tegor atasan? Kalo miara cambang ato jenggot, yang notabene numbuhinnya gak pake pupuk, bisa kena SP? Dan di kantor gw yang sekarang aja ada bos yang cantik banget , sampe bikin segen orang-orang yang badannya ekstra kayak gw dengan petuah dietnya?

Dan, so far juga, belom ada jaminan jadi lebih cantik, nasibnya lebih baek. Karena, hanya orang tolol yang menelan mutlak formula dongeng macem gitu..

Senin, 16 November 2009

Two Years

Udah 2 tahun blog ini berjalan. Masih gitu-gitu aja. Belum banyak nyerap esensi kehidupan, masih banyak ngeluh dan jauh banget dari kesempurnaan:

^header awal banget^
^header kedua, fave gw^

^header ketiga unsur "I am"-nya dihilangkan^


^header sekarang^

Meski jauh dari sempurna, tapi ada kok yang bisa dipetik dari pengalaman 2 taun ngeblog. Yah...gak terlalu rugi waktu juga :D
Celebrate 2 years blogging....
Flash back header aja dah!

Rabu, 04 November 2009

The Warrior of the Light ~lesson 2~

~ The Nature~

Bukan tanggung jawab Sang Ksatria untuk menghakimi mimpi-mimpi orang lain, dan dia tidak membuang waktu untuk mengkritik keputusan-keputusan orang lain. Agar memiliki keyakinan dengan jalan yang telah dipilihnya, ia tidak perlu membuktikan bahwa jalan orang lain salah.

Seorang Ksatria tahu bahwa tak ada seorangpun yang bodoh dan bahwa hidup mengajari setiap orang, seberapapun lamanya pengajaran itu berlangsung. Ia berusaha melakukan yang terbaik dan mengharap yang terbaik juga dari orang lain. Beberapa orang tampak tidak terlalu bersyukur, tapi sang Ksatria tidak kecewa. Ia terus mendorong orang lain karena dengan cara ini ia mendorong pula dirinya.

Ketika ia lelah atau kesepian, ia tidak memimpikan lelaki atau perempuan yang jauh. Ia akan menengok orang yang ada di sampingnya dan berbagi kedukaan atau kebutuhan rasa kasihnya dengan mereka, dengan senang hati dan tanpa rasa bersalah.Seorang Ksatria menceritakan dunianya dengan orang-orang yang dia cintai. Ia berusaha mendorong mereka melakukan hal-hal yang akan dengan senang hati mereka kerjakan, namun kekurangan dorongan.

Ketika seorang Ksatria menjadi korban ketidakadilan, ia biasanya berusaha menyendiri agar tidak mempertunjukkan luka hatinya kepada orang lain. Adalah satu hal membiarkan luka hati seseorang menyembuhkan luka-lukanya perlahan-lahan, tapi adalah satu hal yang sangat berbeda pula untuk duduk sepanjang hari dalam perenungan yang dalam karena rasa takut kelihatan lemah di mata orang lain.

Dalam diri kita tinggallah seorang iblis dan malaikat, dan suara mereka hampir mirip. Saat dihadapkan dengan suatu masalah, iblis akan mendorong percakapan sunyi, berusaha menunjukkan betapa rapuhnya diri kita. Malaikat membuat kita bercermin atas sikap kita dan kadangkala memerlukan mulut orang lain untuk mengungkapkan dirinya.

Bila sang Ksatria memiliki kesulitan, ia akan bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia terlalu takut untuk mendekati seseorang, ataukah takut untuk menerima kasih sayang dan bahkan tidak memperhatikannya? Seorang Ksatria Cahaya memanfaatkan kesunyian, namun tidak dimanfaatkan oleh kesunyian tersebut.


(Disadur dari The Warrior of The Light : A Manual by Paulo Coelho)